Tokoh-tokoh Pendidikan Indonesia
Ki Hajar Dewantara
Gagasan dan Pemikiran;
- Visi, misi dan tujuan pendidikan; pendidikan sebagai alat perjuangan untuk mengangkat martabat dan kemajuan umat manusia secara universal sehingga mereka dapat berdiri kokoh sejajar dengan bangsa-bangsa lain, yang telah maju dengan tetap berpijak kepadaa identitas dirinya sebagai bangsa yang memiliki peradaban yang berbeda dengan bangsa lain.
- Beliau juga membelokkan aliran colonial ke aliran nasional di lembaga pendidikan.
- Orang pertama yang menggagas kurikulum sesuai pada tingkatnya yang mengacu pada pembentukan kepribadian yang memiliki kemajuan yang seimbang antara dimensi intelektual, emosional, dunia dan akhirat.
- Orang pertama yang menggagas pendidikan budi pekerti yang mana pendidikan ini lebih menekankan pada pembentukan karakter melalui pembiasaan perbuatan.
- Salah satu penggagas pendidikan agama bahwa pendidikan agama itu penting dengan memperdayakan sistem pondok sebagai hemat biaya.
- Salah satu orang yang menggagas pentingnya bahasa asing karena itu bisa go internasional.
- Orang yang menggagas metode; kodrat iradat (natur dan evaluasi), Metode Kaki among nini (metode among siswa).
- Orang yang menggagas prinsip pendidikan; Ing ngarso ing tulodo (di depan member contoh), ing madya mangan karso (di tengah membangkitkan kreativitas), tutwuri handayani (dibelakang member pengawasan).
- Pencetus pendidikan berwawasan global, yakni dengan cara peserta didik harus menguasai ilmu; agama, umum dan bahasa asing.
R. A Kartini
Peran R.A Kartini dalam memajukan pendidikan di Indonesia merupakan salah satu contoh kontribusi wanita dalam sejarah. Kartini mendobrak kondisi yang memprihatinkan tersebut dengan membangun sekolah khusus wanita. Selain itu beliau juga mendirikan perpustakaan bagi anak-anak. Kartini dalam memajukan pendidikan Indonesia tertuang dalam karya nya “Door Duisternis Tot Licht”, yang diartikan sebagai ‘habis gelap terbitlah terang’.
Kartini telah membawa banyak perubahan dan kemajuan dalam pendidikan Indonesia. Kartini mengajarkan bahwa seorang wanita harus mempunyai pemikiran jauh ke depan. Di mata Kartini pendidikan adalah hal penting. Pendidikan akan mampu mengangkat derajat dan martabat bangsa. Kartini konsisten mengemukakan pentingnya pendidikan yang mengasah budi pekerti, atau yang kita kenal sebagai pendidikan karakter pada masa sekarang.
Kartini mengatakan bahwa pendidikan itu janganlah hanya akal saja yang dipertajam, tetapi budi pekerti pun harus dipertinggi. Sekolah diperlukan dalam memajukan pendidikan. Pendidikan di sekolah juga harus dibarengi dengan pendidikan di keluarga. Untuk para guru di sekolah, kartini berharap guru tidak hanya mengajar semata, tetapi juga harus menjadi pendidik. Dalam notanya berjudul ‘Berilah Orang Jawa Pendidikan’ Kartini dengan tegas mengatakan “guru-guru memiliki tugas rangkap: menjadi guru dan pendidik! Mereka harus melaksanakan pendidikan rangkap itu, yaitu pendidikan pikiran dan budi pekerti”
Bagi Kartini mendidik perempuan merupakan kunci peradaban, karena perempuan yang akan mendidik anak-anak (generasi muda). Beliau juga memiliki pemikiran tentang kebijakan pendidikan, dimana pemerintah berkewajiban meningkatkan kesadaran budi perempuan, mendidik perempuan, memberi pelajaran perempuan, dan menjadikan perempuan sebagai ibu dan pendidik yang cakap dan cerdas. Namun Kartini juga tidak lantas membatasi pendidikan yang normatif, beliau memberi kebebasan kepada siswa untuk berpikir dan mengutarakan pendapat. Bahan bacaan menjadi gagasan kartini juga, karena bahan bacaan atau yang sekarang ini kita artikan sebagai sumber belajar merupakan alat pendidikan yang diharapkan banyak mendatangkan kebajikan. Anak-anak hendaknya diberi bahan bacaan yang mengasyikkan, bukan karangan kering yang semata-mata ilmiah.
Raden Sartika Dewi
Sejak 1902, Dewi Sartika sudah merintis pendidikan bagi kaum perempuan. Di sebuah ruangan kecil, di belakang rumah ibunya di Bandung, Dewi Sartika mengajar di hadapan anggota keluarganya yang perempuan. Merenda, memasak, jahit-menjahit, membaca, menulis dan sebagainya, menjadi materi pelajaran saat itu. Usai berkonsultasi dengan Bupati R.A. Martenagara, pada 16 Januari 1904, Dewi Sartika membuka Sakola Istri (Sekolah Perempuan) pertama se-Hindia-Belanda. Tenaga pengajarnya tiga orang : Dewi Sartika dibantu dua saudara misannya, Ny. Poerwa dan Nyi. Oewid. Murid-murid angkatan pertamanya terdiri dari 20 orang, menggunakan ruangan pendopo kabupaten Bandung.
Setahun kemudian, 1905, sekolahnya menambah kelas, sehingga kemudian pindah ke Jalan Ciguriang, Kebon Cau. Lokasi baru ini dibeli Dewi Sartika dengan uang tabungan pribadinya, serta bantuan dana pribadi dari Bupati Bandung. Lulusan pertama keluar pada tahun 1909, bahasa sunda bisa lebih mememenuhi syarat kelengkapan sekolah formal. Pada tahun-tahun berikutnya di beberapa wilayah Pasundan bermunculan beberapa Sakolah Istri, terutama yang dikelola oleh perempuan-perempuan Sunda yang memiliki cita-cita yang sama dengan Dewi Sartika. Pada tahun 1912 sudah berdiri sembilan Sakolah Istri di kota-kota kabupaten (setengah dari seluruh kota kabupaten se-Pasundan). Memasuki usia ke-sepuluh, tahun 1914, nama sekolahnya diganti menjadi Sakolah Kautamaan Istri (Sekolah Keutamaan Perempuan). Kota-kota kabupaten wilayah Pasundan yang belum memiliki Sakolah Kautamaan Istri tinggal tiga/empat, semangat ini menyeberang ke Bukittinggi, di mana Sakolah Kautamaan Istri didirikan oleh Encik Rama Saleh. Seluruh wilayah Pasundan lengkap memiliki Sakolah Kautamaan Istri di tiap kota kabupatennya pada tahun 1920, ditambah beberapa yang berdiri di kota kewedanaan. Bulan September 1929, Dewi Sartika mengadakan peringatan pendirian sekolahnya yang telah berumur 25 tahun, yang kemudian berganti nama menjadi “Sakola Raden Déwi”. Atas jasanya dalam bidang ini, Dewi Sartika dianugerahi bintang jasa oleh pemerintah Hindia-Belanda.
Prof. Dr. H. Mahmud Yunus
Pada awal abad ke-20 situasi Pendidikan Islam Indonesia pada umumnya masih bercorak tradisional. Kurikulum yang digunakan pada berbagai pendidikan masih bercorak dikotomis antara ilmu agama dan ilmu umum, orientasi pengajaran masih bertumpu pada penguasaan materi melalui sistem hafalan yang serba verbalistik, yaitu mampu mengucapkan tapi tidak mengerti maksud dan tujuannya apalagi impelementasi. Pengajaran bahasa Arab lebih banyak menekankan aspek gramatika tanpa diimbangi kemampuan menggunakannya dalam bentuk ucapan dan tulisan. Demikian juga pada saat itu di lembaga pendidikan Tinggi Islam Indonesia. Pemikiran dan gagasannya:
- Tokoh pertama kali mempelopori adanya kurikulum yang bersifat integrative yaitu memadukan ilmu agama dan ilmu umum di lembaga pendidikan Islam.
- Pertama kali memasukkan mata pelajaran umum ke dalam madrasah dan pertama kali membuat laboratorium fisika.
- Dia yang merumuskan tujuan pendidikan agar lulusannya harus lebih baik dari pada lulusan sekolah-sekolah yang sudah maju.
- Dalam bidang kelembagaan, termasuk orang yang mempelopori diterapkannya sistem klasikal.
Muhmammad Natsir
Gagasan dan Pemikirannya;
- Tentang peran dan fungsi pendidikan, dia merumuskan; Pertama, membimbing dan memimpin manusia agar mencapai pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani secara sempurna. Kedua, pendidik harus mengerahkan outputnya memiliki akhlakul karimah. Ketiga, Pendidikan harus mencapai tujuannya yaitu menjadi hamba Allah swt. Keempat, Pendidikan harus menghasilkan manusia yang paripurna (rahmatan lil’ alamin).
- Tentang tujuan Pendidikan, yakni merealisasikan identitas Islam yang pada intinya adalah menghasilkan manusia yang berperilku Islami dan menghasilkan manusia yang produktif.
- Dasar Pendidikan, termasuk yang mempelopori pentingnya tauhid.
- Tentang ideology dan pendekatan dalam pendidikan, tidak ada dikotimi antara pendidikan agama dan umum, membagi keseimbangan antara pendidikan Islam; keseimbagan dunia dan ukhrawi, keseimbangan antara badan dan roh dan keseimbangan individu dan masyarakat.
- Tentang fungsi bahasa asing, yakni ini mendukung kemajuan dan kecerdasan orang pertama yang menekankan pentingnya bahasa asing dan memasukkan dalam pelajaran bahasa arab dan juga untuk dasar Islam.
- Orang pertama yang menekankan tentang pentingnya keteladanan guru.
Syaikh Abdullah Ahmad
Gagasan dan pemikirannya, antara lain;
- Pemerataan pendidikan, yakni antara anak priayi dan pribumi, pria dan wanita berhak mendapatkan pendidikan yang sama. Beliau adalah orang pertama yang mempelopori berdirinya madrasah di Indonesia, yaitu model sekolah agama yang menggunakan sistem klasikal lengkap dengan sarana dan prasarananya. Dia juga adalah orang pertama mengadakan pembaharuan pendidikan dalam bidang kelembagaan /Institusi Pendidikan dengan cara meniru model sistem pembelajaran dari HIS (Hollandsc Indonsian School) sehingga lembaga pendidikan yang dia dirikan diberi nama Sekolah Adabiyah.
- Tentang kurikulum, yakni dengan memasukkan pelajaran agama dan al-Quran sebagai mata pelajaran wajib.
- Tentang dana Pendidikan, beliau mendapatkan bantuan dari pemerintah belanda ini di karenakan. Pertama, mengambil kepercayaan dari pemerintah Belanda. Kedua, berhasil mengupayakan adanya dana alternatif bagi Pendidikan Islam.
- Tentang kemodernan, ini ditandai oleh sikap keterbukaan dan objektif dan kritis membolehkan para siswa berbagai golongan dengan syarat beragama Islam.
- Tentang metode pengajaran, dia mengembangkan metode; (1). Debating club, (2). Pemberian reward dan punishment, (3). Bermain dan rekreasi.
K.H. Abdullah Syafi’i
Gagasan dan pemikirannya;
- Salah satu ulama yang menganjurkan orang Islam mempelajari umum dan agama.
- Tokoh pendidikan yang pertama memperkenalkan metode talqin, diskusi, penugasan, bimbingan belajar, magang dan metode pengulangan.
- Salah satu ulama yang menggagas tentang tugas guru adalah membentuk karakter dan watak peserta didik.
K.H. Saifuddin Zuhri
Tokoh pertama yang memperkenalkan konsep;
- Desentralisasi pendidikan.
- Konsep pendidikan berbasis masyarakat, adalah konsep pendidikan yang melihat masyarakat sebagai pelaksana pendidikan
Prof. Dr. Harun Nasution
Gagasan dan pemikirannya;
- Menumbuhkan tradisi ilmiah adalah merombak sistem perkuliahan menjadi dan mengajak siswa berfikir rasional, kritis, inovatif, objektif dan menghargai.
- Memperbaharui kurikulum IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan tidak sentral di satu madzhab saja.
- Pembianaan tenaga dosen
- Menerbitkan jurnal ilmiah
- Pengembangan perpustakaan
- Pembukaan program pasca sarjana
- Menjadikan IAIN sebagai pusat pembaharuan pemikiran dalam Islam
Rahmah El-Yunisiah
Gagasan dan pemikirannya. Antara lain;
- Orang pertama yang peduli dengan nasib kaum wanita, yakni yang memiliki cita-cita agar wanita Indonesia memperoleh kesempatan penuh untuk menuntut ilmu yang sesuai dengan kodrat wanita hingga dapat diimplementasikan ke dalam kehidupan sehari-hari.
- Orang pertama yang mendirikan sekolah khusus wanita di sekolah ini dia bercita-cita agar wanita bisa aktif dan kreatif agar bermanfaat bagi dirinya, masyarakat dan bangsa.
- Dia juga yang menanamkan jiwa agama di lembaga pendidikan yang dibangunnya dengan tujuan pembentukan karakter.
- Orang pertama yang memiliki cita-cita mendirikan perguruan dan rumah sakit khusus wanita dan termasuk pelopor emansipasi wanita.
- Pelopor berdirinya TKR (Tentara Keamanan Rakyat) di Sumatera Barat
KH. Ahmad Dahlan
K.H. Ahmad Dahlan tidak secara khusus menyebutkan tujuan pendidikan. Tetapi dari pernyataannya yang disampaikannya dalam berbagai kesempatan, tujuan pendidikan K.H. Ahmad Dahlan adalah “Dadijo Kijahi sing kemadjoean, adja kesel anggonmu njamboet gawe kanggo moehammadijah”.
Dalam pernyataan sederhana tersebut, terdapat beberapa hal penting yaitu Kijahi, kemadjoean, dan njamboet gawe kanggo moehammadijah.
Istilah Kiai merupakan sosok yang sangat menguasai ilmu agama. Dalam masyarakat Jawa, seorang kiai adalah figur yang sholeh, berakhlak mulia, dan menguasai ilmu agama secara mendalam.
Istilah Kemajuan secara khusus menunjuk kepada kemodernan sebagai lawan dari kekolotan dan konservatisme. Pada masa K.H.Ahmad Dahlan, kemajuan sering diidentikkan dengan penguasaan ilmu-ilmu umum atau intelektualitas dan kemajuan secara material. Sedangkan kata njamboet gawe kanggo moehammaddijah merupakan manifestasi dari keteguhan dan komitmen untuk membantu dan mencurahkan pikiran dan tenaga untuk kemajuan umat Islam pada khususnya, dan kemajuan masyarakat pada umumnya.
Berdasarkan pemahaman tersebut, tujuan pendidikan menurut K.H Ahmad Dahlan adalah untuk membentuk manusia yang :
- Alim dalam ilmu agama.
- Berpandangan luas, dengan memiliki pengetahuan umum.
- Siap berjuang, mengabdi untuk Muhammadiyyah dalam menyantuni nilai-nilai keutamaan dalam masyarakat.
Berangkat dari tujuan pendidikan tersebut, K.H.Ahmad Dahlan berpendapat bahwa kurikulum atau materi pendidikan hendaknya meliputi:
- Pendidikan moral,akhlaq, yaitu sebagai usaha menanamkan karakter manusia yang baik berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah.
- Pendidikan individu, yaitu sebagai usaha untuk menumbuhkan kesadaran individu yang utuh, yang berkeseimbangan antara perkembangan mental dan jasmani, antara keyakinan dan intelek, antara perasaan dan akal pikiran serta antara dunia dan akhirat.
- Pendidikan kemasyarakatan, yaitu sebagai usaha untuk menumbuhkan kesediaan dan keinginan hidup bermasyarakat.
KH. Hasyim Asy’ari
Beliau menyebutkan bahwa tujuan utama ilmu pengetahan adalah mengamalkan. Hal itu dimaksudkan agar ilmu yang dimiliki menghasilkan manfaat sebagai bekal untuk kehidupan akhirat kelak. Terdapat dua hal yang harus diperhatikan dalam menuntut ilmu, yaitu : pertama, bagi murid hendaknya berniat suci dalam menuntut ilmu, jangan sekali-kali berniat untuk hal-hal duniawi dan jangan melecehkannya. Kedua, bagi guru dalam mengajarkan ilmu hendaknya meluruskan niatnya terlebih dahulu, tidak mengharapkan materi semata.
Komentar
Posting Komentar