Tutur-tutur Lokal mengenai Pendidikan

www.pendidikanmahir.com

1.        Adé’é temmakké-anak’ temmakké-épo. 
Artinya: “adat tak mengenal anak, tak mengenal cucu”. Dalam menjalankan norma-norma adat tak boleh pilih kasih (tak pandang bulu). Misalnya, anak sendiri jelas-jelas melakukan pelanggaran harus dikenakan sanksi (hukuman) sesuai ketentuan adat yang berlaku. 

2.        Ajak mapoloi olona tauwé.
Artinya: “jangan memotong (mengambil) hak orang lain”. Memperjuangkan kehidupan adalah wajar, tetapi jangan menjadikan perjuangan itu pertarungan kekerasan, saling merampas atau menghalangi rezeki orang lain. 

3.        Aja’ mumatebek ada, apak iyatu adaé maéga bettawanna. Muatutuiwi lilamu, apak iya lilaé paweré-weré.
Artinya: “Jangan banyak bicara, sebab bicara itu banyak artinya. Jaga lidahmu, sebab lidah itu sering mengiris”. 

4.        Aju maluruémi riala paréwa bola.
Artinya: “hanyalah kayu yang lurus dijadikan ramuan rumah”. Di sini rumah sebagai perlambang dari pemimpin yang melindungi rakyat. Hanya orang yang memiliki sifat lurus (jujur) yang layak dijadikan pemimpin, agar yang bersangkutan dapat menjalankan fungsi perannya dengan baik. 

5.        Alai cedde’e risesena engkai mappedeceng, sampeanngi maegae risesena engkai maega makkasolang .
Artinya: “ambil yang sedikit jika yang sedikit itu mendatangkan kebaikan, dan tolak yang banyak apabila yang banyak itu mendatangkan kebinasaan”. Mengambil sesuatu dari tempatnya dan meletakkan sesuatu pada tempatnya, termasuk perbuatan mappasitinaja (kepatutan). Kewajiban yang dibaktikan memperoleh hak yang sepadan adalah suatu perlakuan yang patut. Banyak atau sedikit tidak dipersoalkan oleh kepatutan, kepantasan, dan kelayakan.

6.        Balanca manemmui waramparammu, abbeneng anemmui, iakia aja’ mupalaowi moodala’mu enrenngé bagelabamu. 
Artinya: “boleh engkau belanjakan harta bendamu, dan pakai untuk berbini, namun janganlah sampai kamu menghabiskan modal dan labamu”. Peringatan pada pedagang (pengusaha) agar dalam menggunakan harta tidak berlebihan sehingga kehabisan modal dan membangkrutkan

7.        Dék nalabu essoé ri tenngana bitaraé.
Artinya: “tak akan tenggelam matahari di tengah langit”. Manusia tidak akan mati sebelum takdir ajalnya sampai. Oleh karena itu keraguan harus disingkirkan dalam menghadapi segala tantangan hidup. 

8.        Duwa laleng tempekding riola, iyanaritu lalenna passarié enrenngé lalenna paggollaé.
Artinya: “dua cara tak dapat ditiru, ialah cara penyadap enau dan cara pembuat gula merah”. Jalan yang ditempuh penyadap enau tak tentu, kadang dari pohon ke pohon lain melalui pelepah atau semak belukar, sehingga dikiaskan sebagai menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Pembuat gula merah umumnya tak menghiraukan kebersihan, lantaran nnya itu tak diketahui orang. Kedua sikap di atas tak pantas ditiru karena mempunyai itikad kurang. 

9.        Iapa nakullé taué mabbaina narékko naulléni magguli-lingiwi dapurenngé wékka pitu .
Artinya: “apabila seseorang ingin beristeri, harus sanggup mengelilingi dapur tujuh kali”. Di sini dapur merupakan perlambang dari masalah pokok dalam kehidupan rumah tangga. Sedangkan tujuh kali merupakan padanan terhadap jumlah hari yang juga tujuh (Senin s/d Minggu). Maksudnya, sebelum berumah tangga supaya memiliki kesanggupan memikul tanggung jawab menghidupi keluarga setiap hari.

10.    Iyya nanigesara’ ada’ ‘biyasana buttaya tammattikamo balloka, tanaikatonganngamo jukuka, annyalatongi aséya. 
Artinya: “Jika dirusak adat kebiasaan negeri maka tuak berhenti menitik, ikan menghilang pula, dan padi pun tidak menjadi”. Jikalau adat dilanggar berarti melanggar kehidupan manusia, yang akibatnya bukan hanya dirasakan oleh yang bersangkutan, tetapi juga oleh segenap anggota masyarakat, binatang tumbuh-tumbuhan dan alam semesta.

11.    Jagaiwi balimmu siseng mualitutui ranemmu wekka seppulo nasaba rangemmu ritu biasa mancaji bali.
Artinya: “jagalah lawanmu sekali dan jagalah sekutumu sepuluh kali lipat sebab sekutu itu bisa menjadi lawan”. Terhadap lawan sikap kita sudah jelas, namun yang harus lebih diwaspadai jangan sampai ada kawan berkhianat. Sebab, dengan demikian lawan jadi bertambah, dan membuat posisi rentan karena yang bersangkutan mengetahui rahasia (kelemahan) kita.

12.    Ka-antu jekkongan kammai batu nibuanga naung rilikua; na-antu lambu suka kammai bulo ammawanga ri je’néka, nuassakangi poko’na ammumbai appa’na, nuasakangi appa’na ammumbai poko’na.
Artinya: “kecurangan itu sama dengan batu yang dibuang ke dalam lubuk; sedangkan kejujuran laksana bambu yang terapung di air, engkau tekan pangkalnya maka ujungnya timbul, engkau tekan ujungnya maka pangkalnya timbul”. Kecurangan mudah disembunyikan, namun kejujuran akan senantiasa tampak dan muncul ke permukaan.

13.    Lebbik-i cau-caurenngé napellorenngé.
Artinya: “lebih baik yang sering kalah daripada yang pengecut”. Orang yang sering kalah, masih memiliki semangat juang meskipun lemah dalam menghadapi tantangan. Sedangkan pengecut, samasekali tak memiliki keberanian ataupun semangat untuk berusaha menghadapi tantangan.

14.    Malai bukurupa ricaué, mappalimbang ri majé ripanganroé.
Artinya: “memalukan kalau dikalahkan, mematikan kalau ditaklukkan”. Dikalahkan dalam perjuangan hidup karena keadaan memaksa memang memalukan. Sedangkan takluk, sama halnya menyerahkan seluruh harga diri, dan orang yang tak memiliki harga diri sama halnya mati.

15.    Mattulu’ perajo téppéttu siranrang, padapi mapééttu iya.
Artinya: “terjalin laksana tali pengikat batang bajak pada luku yang selalu bertautan, tak akan putus sebelum putus ketiganya”. Perlambang dari eratnya persahabatan. Di mana masing-masing saling mempererat, memperkuat, sehingga tidak putus jalin kelingnya. Apabila putus satu, maka semua sama-sama putus. 

16.    Massésa panga, temmasésa api, massésa api temmasésa botoreng.
Artinya: “bersisa pencuri tak bersisa api, bersisa api tak bersisa penjudi”. Betapa pun pintarnya pencuri tak mampu mengambil semua barang (misalnya mengambil rumah atau tanah). Seberapa besarnya kebakaran hanya mampu menghancurkan barang-barang (misalnya tanah masih utuh). Akan tetapi seorang penjudi dapat menghabiskan seluruh barang miliknya (termasuk tanah yang tak dapat dicuri dan terbakar) dalam waktu singkat.

17.    Mau maéga pabbiséna nabonngo ponglopinna téa wa’ nalureng.
Artinya: “biar banyak pendayungnya, tetapi bodoh juru mudinya”. Kebahagiaan rumah tangga ditentukan oleh banyak hal, tetapi yang paling menentukan adalah kecakapan dan rasa tanggung jawab kepala rumah tangga itu sendiri.

18.    Naiya riyasenngé pannawanawa, mapaccingi riatinna, sappai rinawanawanna, nalolongenngi sininna adaé enrenngé gau’ é napoléié ja’ enrenngé napoléié décéng.
Artinya: “cendekiawan (pannawanawa) ialah orang yang ikhlas, yang pikirannya selalu mencari-cari sampai dia menemukan pemecahan persoalan yang dihadapi, demikian pula perbuatan yang menjadi sumber bencana dan sumber kebajikan”. 

19.    Naiya tau malempuk-é manguruk manak-i tau sugi-é.
Artinya: “orang yang jujur sewarisan dengan orang kaya”. Orang jujur tidaklah sulit memperoleh kepercayaan dari orang kaya karena kejujurannya.

20.    Naiya accae ripatoppoki jékko, aggati aliri, narékko téyai maredduk, mapoloi.
Artinya: “kepandaian yang disertai kecurangan ibarat tiang rumah, kalau tidak tercerabut, ia akan patah”. Di Bugis, tiang rumah dihubungkan satu dengan yang lain menggunakn pasak. Jika pasak itu bengkok sulit masuk ke dalam lubang tiang, dan patah kalau dipaksakan. Kias terhadap orang pandai tetapi tidak jujur. Ilmunya tak akan mendatangkan kebaikan (berkah), bahkan dapat membawa bencana (malapetaka).

21.    Narékko maélokko tikkeng séuwa olokolok sappak-i batélana. Narékko sappakko dallék sappak-i maégana batéla tau .
Artinya: “kalau ingin menangkap seekor binatang, carilah jejaknya. Kalau mau mencari rezeki, carilah di mana banyak jejak manusia”. Pada hakikatnya, manusialah yang menjadi pengantar rezeki, sehingga di mana banyak manusia akan ditemui banyak rezeki.

22.    Narékko téyako risarompéngi lipak, aja mutudang ri wiring laleng.
Artinya: “kalau kamu tak sudi terserempet sarung, jangan duduk di tepi jalan”. Duduk di tepi jalan dianggap perbuatan yang tak wajar, karena banyak orang berlalu-lalang. Mengandung nasihat agar menjauhi segala sesuatu yang berbahaya supaya selamat.

23.    Narékko maélokko madécéng ri jama-jamammu, attanngakko ri batélak-é. Ajak muolai batélak sigaru-garué, tutunngi batélak makessinngé tumpukna.
Artinya: “kalau mau berhasil dalam usaha atau pekerjaanmu, amatilah jejak-jejak. Jangan mengikuti jejak yang simpang siur, tetapi ikutlah jejak yang baik urutannya” Jejak yang simpang siur adalah jejak orang yang tentu arah tujuan. Jejak yang baik urutannya adalah jejak orang yang berhasil dalam kehidupan. Sukses tidak dapat diraih dengan semangat saja, melainkan harus dibarengi adanya tujuan yang pasti dan jalan yang benar.

24.    Olakku kuassukeki, olakmu muassukeki
Artinya: “takaranku kujadikan ukuran, takaranmu kamu jadikan ukuran”. Setiap orang mempunyai prinsip atau landasan berpikir sendiri-sendiri dalam memandang sesuatu. Oleh karena itu harus ada saling pengertian atau tenggang rasa supaya tak terjadi pertikaian.

25.    Paddioloiwi niak madécéng ri temmakdupana iyamanenna.
Artinya: “Dahuluilah dengan niat baik sebelum melaksanakan pekerjaan”. Dengan adanya niat baik yang bersangkutan akan tertuntun ke jalan yang benar. Berniat baik saja sudah merupakan kebaikan, apalagi kalau dilaksanakan. 

26.    Pauno sirié, mappalétté ri pammasareng essé babuaé.
Artinya: “malu mengakibatkan maut, iba hati mengantar ke liang”. Rasa malu yang tak terkendali dapat mengundang malapateka (mengundang maut). Perasaan iba yang berlebihan juga dapat membawa kesengsaraan dan mencelakakan (menyebabkan kematian).

27.    Pala uragaé, tebakké tongenngé teccau maégaé, tessiéwa situlaé.
Artinya: “berhasil tipu daya, tak akan musnah kebenaran, tak akan kalah yang banyak, tak akan berlawanan yang berpantangan”. Tipu daya mungkin berhasil untuk sementara, tetapi kebenaran tidak termusnahkan. Kebenaran akan tetap hidup bersinar terus dalam kalbu manusia karena ia datang dari sumber yang hakiki, yaitu Tuhan YME.

28.    Pura babbara’ sompekku, pura tangkisi’ golikku, ulebbirenni tellenngé nato’walié.
Artinya: “layarku sudah terkembang, kemudiku sudah terpasang, lebih baik tenggelam daripada kembali”. Semangat yang mengandung makna kehati-hatian dan didasarkan atas acca, yang berarti mendahulukan pertimbangan yang waras dan matang. Pelaut Bugis tak akan berlayar sebelum tiang dan guling serta tali-temali diperiksa cermat dan teliti. Di samping juga memperhatikan waktu dan musim yang tepat untuk berlayar. Setelah segala sesuatunya meyakinkan, barulah berlayar atas dasar kata putus seperti di atas.

29.    Rebba sipatokkong, mali siparappé, sirui ménré tessirui nok, malilu sipakainge, maingeppi mupaja.
Artinya: “rebah saling menegakkan, hanyut saling mendamparkan, saling menarik ke atas dan tidak saling menekan ke bawah, terlupa saling mengingatkan, nanti sadar atau tertolong barulah berhenti”. Mengandung pesan agar orang selalu berpijak dengan teguh dan berdiri kokoh dalam mengarungi kehidupan. Juga harus tolong-menolong ketika menghadapi rintangan, dan saling mengingatkan untuk menuju ke jalan yang benar. Jika semua itu dilaksanakan akan terwujud masyarakat yang aman dan sejahtera.

30.    Atutuiwi anngolona atimmu; aja' muammanasaianngi ri ja'e padammu rupa tau nasaba' mattentui iko matti' nareweki ja'na apa' riturungenngi ritu gau' madecennge riati maja'e nade'sa nariturungeng ati madecennge ri gau' maja'e. Naiya tau maja' kaleng atie lettu' rimonri ja'na.
Artinya :
(Jagalah arah hatimu; jangan menghajatkan yang buruk kepada sesamamu manusia, sebab pasti engkau kelak akan menerima akibatnya, karena perbuatan baik terpengaruh oleh perbuatan buruk. Orang yang beritikad buruk akibatnya akan sampai pada keturunannya keburukan itu.)

31.    Makkedatopi Arung Bila, eppa tanrana tomadeceng kalawing ati, seuani, passu'i ada napatuju, maduanna, matuoi ada nasitinaja, matellunna duppai ada napasau, maeppa'na, moloi ada napadapi.
Artinya :
(Berkata pula Arung Bila, ada empat tanda orang baik bawaan hatinya. Pertama,mengucapkan kata yang benar. Kedua, menyebutkan kata yang sewajarnya. Ketiga, menjawab dengan kata yang berwibawa. Keempat, melaksanakan kata dan mencapai sasarannya.)
Pemerintahan Yang Baik

32.    Naiyya riasenge Funggawa,Maccai Na Malempu, Waraniwi Na Magetteng
Artinya :
( Pemimpin adalah :Yang Jujur,Berani dan Teguh dalam Pendirian )

33.    Naiyya riasennge maradeka, tellumi pannessai,
• Seuani, tenrilawai ri olona.
• Maduanna, tenriangkai' riada-adanna.
• Matellunna, tenri atteanngi lao ma-niang, lao manorang, lao orai, lao alau,lao ri ase, lao ri awa.
Artinya :
Yang disebut merdeka (bebas) hanya tiga hal yang menentukannya:
• pertama, tidak dihalangi kehendaknya;
• kedua, tidak dilarang mengeluarkan pendapat;
• ketiga, Tidak dilarang ke Selatan, ke Utara, Ke Barat, ke Timur, ke atas danke bawah.
Itulah hak-hak kebebasan.

34.    Rusa taro arung, tenrusa taro ade, Rusa taro ade, tenrusa taro anang, Rusa taro anang, tenrusa taro tomaega.
Artinya :
(Batal ketetapan raja, tidak batal ketetapan adat, Batal ketetapan adat, tidak batal ketetapan kaum Batal ketetapan kaum, tidak batal ketetapan orang banyak)

35.    Siri' emmi to riaseng tau, Majeppu Fada Taroi Alemu Siri, Narekko de’gaga siri’mu.inrekko siri.
Artinya :
( Karena Siri’ kita hidup, olehnya itu, lengkapilah dirimu dengan siri’,kalau tidak ada siri’mu, pinjamlah !)

36.    Makkadai Nene’ Mallomo: Naiyya riasengge"Ade' temmakeana' temmakke eppo"
(Kata Nene Mallomo: "Hukum tidak mengenal anak dan tidak mengenal cucu.")

37.    Taro ada Taro gau, Sisebbu ada Seddi Gau, Gau’e Mappannessa
Artinya :
( Perkataan dan Perbuatan harus sesuai, Seribu perkataan Satu Perbuatan, Perbuatan Yang nyata )

38.    Aja' mumaelo' ribetta makkalla ri cappa alletennge
Artinya :
(Janganlah mau didahului menginjakkan kaki di ujung titian.)

39.    Resopa natinulu, natemmanginngi malomo naletei pammase Dewata Seuwaee.
Artinya:
(Hanya dengan kerja keras dan ketekunan, sering menjadi titian rahmat Ilahi.)

40.    Akkellu peppeko mulao,a'bulu rompeko murewe'.
Artinya :
(Bergundul licinlah engkau pergi, berbulu suaklah engkau kembali).

41.    Onroko mammatu-matu napole marakkae naia makkalu
Artinya :
(Tinggallah engkau bermalas-malas hingga kelak datang yang gesit lalu menguasai)

42.    Temmasiri kajompie, tania ttaro rampingeng, naia makkalu.
Artinya :
(Tak malu nian si Buncis, bukan ia menyimpan penyanggah, ia yang memanjat)

43.    "tejjali tettappere , banna mase-mase".
Artinya :
(kami tidak punya apa2 kecuali dengan kasih sayang)

44.    Iya padecengi assiajingeng:
• - Sianrasa-rasannge nasiammase-maseie;
• - sipakario-rio;
• - Tessicirinnaiannge ri sitinajae;
• - Sipakainge' ri gau' patujue;
• - Siaddappengeng pulanae.
Artinya :
(Yang memperbaiki hubungan kekeluargaan yaitu:
• - Sependeritaan dan kasih-mengasihi;
• - Gembira menggembirakan;
• - Rela merelakan harta benda dalam batas-batas yang wajar;
• - Ingat memperingati dalam hal-hal yang benar;
• - Selalu memaafkan.)

45.    Eppai rupanna padecengi asseajingeng:
• - Sialurusennge' siamaseng masseajing.
• - Siadampengeng pulanae masseajing.
• - Tessicirinnaiannge warangparang masseajing, ri sesena gau' sitinajae.
• - Sipakainge' pulannae masseajing ri sesena gau' patujue sibawa winru' madeceng.
Artinya :
( Empat hal yang mengeratkan hubungan kekeluargaan:
1. - Senantiasa kasih mengasihi sekeluarga.
2. - Maaf memaafkan sekeluarga.
3. - Rela merelakan sebagian harta benda sekeluarga dalam batas-batas yang layak.
4. - Ingat memperingati sekeluarga demi kebenaran dan tujuan yang baik.)

46.    Ri pariajanngi ri ajannge, ri parialau'i alau'e, ri parimanianngimaniannge, ri pariase'i ri ase'e, ri pariawai ri awae.
Artinya :
(Ditempatkan di Barat yang di Barat, ditempatkan di Timur yang di Timur, ditempatkan di Selatan yang di Selatan, ditempatkan di atas yang di atas, ditempatkan di bawah yang di bawah.)

47.    Aja' muangoai onrong, aja' to muacinnai tanre tudangeng, de'tu mullei padecengi tana. Risappa'po muompo, ri jello'po muompo, ri jello'po muakkengau.
Artinya :
(Jangan serakahi kedudukan, jangan pula terlalu menginginkan kedudukan tinggi, jangan sampai kamu tidak mampu memperbaiki negeri. Bila dicari barulah kamu muncul, bila ditunjuk barulah kamu mengia.)

48.    Duampuangenngi ritu gau sisappa nasilolongeng, gau madecennge enrennge sitinajae. Iapa ritu namadeceng narekko silolongenngi duampuangennge. Naia lolongenna ritu:a. narekko ripabbiasai aleta mangkau madeceng, mauni engkamuna maperri ri pogaumuiritu.b. Pakatunai alemu ri sitinajaec. Saroko mase ri sitinajqed. Moloi roppo-roppo narewee. Moloi laleng namatike nasanresenngi ri Dewata Seuwaeef. Akkareso patuju.
Artinya :
(Dua hal saling mencari lalu bersua, yakni perbuatan baik dan yang pantas. Barulah baik bila keduanya berpadu. Cara memadukannya ialah:
a. Membiasakan diri berbuat baik meskipun sulit dilakukan.
b. Rendahkanlah dirimu sepantasnya.
c. Ambillah hati orang sepantasnyad. Menghadapi semak-semak ia surut langkahe. Melalui jalan ia berhati-hati dan menyandarkan diri kepada Tuhanf. Berusahalah dengan benar.)

49.    Cecceng ponna cannga tenngana sapu ripale cappa'na
Artinya :
(Serakah awalnya, menang sendiri pertengahannya, kehilangan sama sekali akhirnya.)

50.    Aja' mugaukenngi padammu tau ri gau' tessitinajae
Artinya :
(Jangan engkau melakukan sesuatu yang tidak patut terhadap sesamamu manusia)

51.    Bulu temmaruttunna Alla Taala kuonroi maccalinrung,
Engkaga balinna Alla Taala na engka balikku,
Mette'kka tenribali, massadaka tenri sumpala.
Artinya :
(Gunung yang kokoh kuat milik Allah Yang Maha Tinggi yang kutempati berlindung Tidak ada yang dapat menandingiku, kecuali jika ada yang dapat menandingi Allah yang Maha Kuasa
Kalau saya berbicara, tidak ada lagi yang dapat menyahut, dan kalau saya berpendapat, tidak ada lagi yang bisa menyanggah)

52.    Toddo Puli Temmalara ri Wawang
Ati Mapaccinnge Nassibawai Alempureng.
Artinya :
( Teguh tak Tergoyahkan pada Hati yang Suci-bersih disertai dengan Kejujuran )

53.    Sirebba tannga tessirebba pasorong Padaidi pada elo, sipatuo sipatakkong
Siwata menre, tessirui no.
Artinya :
(Kita saling mengulurkan tangan ketika hanyut,Kita saling menghidupkan karena kita seia sekata,Saling mengangkat dantak saling menjatuhkan
Berbeda pendapat,tetapi tidak menyebabkan adu kekuatan)


54.    Resopa natinulu kuae topa temmanginngi malomo naletei pammase Dewata
Artinya :
(Hanya dengan usaha/kerja keras disertai dengan ketekunan sering menjadi titian rahmat Ilahi).

Tutur local dari daerah Makassar
55.    Naalleammi tallanga na toalia.
Artinya: “dia pilih tenggelam daripada surut kembali”. Gambaran dari sikap orang Makassar yang pantang menyerah terhadap hambatan dan tantangan yang dihadapi sebelum terwujud apa yang dicita-citakan.

56.    Napiraknyuki pole bebena.
Artinya: “dia mencuci muka dengan air liur sendiri”. Ungkapan yang ditujukan pada orang yang berusaha menutupi (mengingkari) kesalahan, akan tetapi tanpa disadari perbuatan tersebut justru akan semakin menambah malu dan memperbesar kesalahnnya saja.

57.    Olok-oloka lagi na niak tonja paccena.
Artinya: “sedangkan hewan punya rasa iba”. Sebagai sindiran terhadap orang yang tidak memiliki rasa iba (kasihan) kepada sesama manusia, terutama pada sanak keluarganya sendiri. Ada juga peribahasa lain yang artinya mirip dengan peribahasa di atas, yaitu: Niak tonja antu paccena punna pacce naekbak lading. Artinya: “ada juga pedihnya, tetapi pedih karena teriris pisau”.

58.    Otak minnyak otakna teai otak bayao.
Artinya: “otaknya otak minyak bukan otak telur”. Ungkapan yang ditujukan kepada orang pintar. Diibaratkan otaknya seperti minyak, apabila panas atau dipanaskan (menemukan masalah) akan mencair. Berbeda dengan mereka yang memiliki otak seperti telur, jika dipanaskan justru akan mengental atau membeku (tidak berkembang/tak mampu berpikir dengan baik).

59.    Paempoi gaukmu siagang ampe-ampemu ri adaka siagang ri saraka.
Artinya: “dudukkan perbuatan dan akhlakmu pada adat dan agama”. Menurut adat orang Makassar, setiap perbuatan dan akhlak harus serasi dan sejalan dengan ketentuan adat dan ajaran agama (Islam).

60.    Pakmaik erok na ati maciknong bajik sikali sigappana.
Artinya: “keinginan yang kuat ditambah hati yang jernih pasti sangat cocok”. Nasihat bagi setiap orang agar dalam melakukan segala sesuatu haruslah didukung oleh kemauan keras serta  hati yang tulus. Jika keduanya dapat disatukan, maka kesukseskan pun pasti akan tercapai. 
61.    Panne alle cinik ri pamantanganna biasa tonji antu sigentok-gentok.
Artinya: “perhatikan piring di tempatnya sering pula berbenturan”. Maknanya, bagaimana pun rukunnnya pasangan suami isteri pada suatu saat akan muncul juga percekcokan atau pertengkaran di antaranya sebagai bumbu kehidupan (kebersamaan) yang tengah dijalani.

62.    Para buraknejakik, para sekre nyawa nierang, para eja cerakta.
Artinya: “kita sama laki-laki, satu nyawa kita miliki, darah kita pun sama merah”. Semboyan kejantanan yang hingga kini masih sering terdengar di kalangan laki-laki Makassar, yang menyatakan jangan takut atau ragu-ragu menghadapi tantangan. Artinya, sebagai laki-laki haruslah tegar dan memiliki semangat pantang menyerah sampai titik darah penghabisan. 

63.    Punna pabaluk minnyak-minnyak nipinawang nabenei tongkik baukma, punna pakeke solongang nipinawang nabenei tongkik bottokna.
Artinya: “jika penjual minyak wangi diikuti akan memperoleh baunya, dan jika penggali selokan yang diikuti akan mendapatkan busuknya”. Merupakan nasihat agar kita meneladani orang baik karena pasti akan ketularan kebaikannya. Sebaliknya, jika mengikuti orang jahat, dia pun secara tak langsung akan menularkan kejahatannya pula pada kita. 

64.    Puna tena pangaliknu anngirang-inrangko panngalik na niak nupake-pake. 
Artinya: “jika engkau tidak memiliki rasa malu, pinjamlah supaya ada yang engkau manfaatkan”. Peribahasa ini sering ditujukan pada orang yang tidak mau membela atau mepertahankan kehormatan diri maupun keluarganya dari gangguan orang lain (dari luar).

65.    Paddioloiwi niak madécéng ri temmakdupana iyamanenna. 
Artinya: “Dahuluilah dengan niat baik sebelum melaksanakan pekerjaan”. Dengan adanya niat baik yang bersangkutan akan tertuntun ke jalan yang benar. Berniat baik saja sudah merupakan kebaikan, apalagi kalau dilaksanakan. 

66.    Pauno sirié, mappalétté ri pammasareng essé babuaé. 
Artinya: “malu mengakibatkan maut, iba hati mengantar ke liang”. Rasa malu yang tak terkendali dapat mengundang malapateka (mengundang maut). Perasaan iba yang berlebihan juga dapat membawa kesengsaraan dan mencelakakan (menyebabkan kematian). 

67.    Pala uragaé, tebakké tongenngé teccau maégaé, tessiéwa situlaé. 
Artinya: “berhasil tipu daya, tak akan musnah kebenaran, tak akan kalah yang banyak, tak akan berlawanan yang berpantangan”. Tipu daya mungkin berhasil untuk sementara, tetapi kebenaran tidak termusnahkan. Kebenaran akan tetap hidup bersinar terus dalam kalbu manusia karena ia datang dari sumber yang hakiki, yaitu Tuhan YME. 

68.    Pura babbara’ sompekku, pura tangkisi’ golikku, ulebbirenni tellenngé nato’walié. 
Artinya: “layarku sudah terkembang, kemudiku sudah terpasang, lebih baik tenggelam daripada kembali”. Semangat yang mengandung makna kehati-hatian dan didasarkan atas acca, yang berarti mendahulukan pertimbangan yang waras dan matang. Pelaut Bugis tak akan berlayar sebelum tiang dan guling serta tali-temali diperiksa cermat dan teliti. Di samping juga memperhatikan waktu dan musim yang tepat untuk berlayar. Setelah segala sesuatunya meyakinkan, barulah berlayar atas dasar kata putus seperti di atas. 

69.    Rebba sipatokkong, mali siparappé, sirui ménré tessirui nok, malilu sipakainge, maingeppi mupaja. 
Artinya: “rebah saling menegakkan, hanyut saling mendamparkan, saling menarik ke atas dan tidak saling menekan ke bawah, terlupa saling mengingatkan, nanti sadar atau tertolong barulah berhenti”. Mengandung pesan agar orang selalu berpijak dengan teguh dan berdiri kokoh dalam mengarungi kehidupan. Juga harus tolong-menolong ketika menghadapi rintangan, dan saling mengingatkan untuk menuju ke jalan yang benar. Jika semua itu dilaksanakan akan terwujud masyarakat yang aman dan sejahtera.

70.    Akbissai mingka jeknek nakjisik napabissa.
Artinya: “beristinja tetapi air najis yang dipakai membersihkannya”. Orang yang berusaha memperbaiki diri dari kesalahan masa lalunya, tetapi cara yang ditempuhnya bertentangan dengan ajaran agama Islam.

71.    Angulummi naung batu lompoa nanggulung naik batu-batu cakdia.
Artinya: “batu besar sudah bergulir ke bawah, sedangkan batu kecil bergulir ke atas”. Ungkapan yang menggambarkan situasi di mana orang-orang yang berpangkat atau berpengaruh (pemimpin) sudah kehilangan kewibawaaanya, sementara karena suatu hal ada orang-orang kecil (yang dulunya tidak terkenal) muncul ke permukaan dan menjadi panutan orang.

72.    Apa nagaukang lima kananga takkulleai naasseng lima kairia.
Artinya: “apa yang dilakukan tangan kanan tidak perlu diketahui tangan kiri”. Memberi pertolongan atau bantuan pada orang lain tak perlu diketahui atau diumumkan pada orang banyak.Himbauan aga dalam memberikan sumbangan dilakukan dengan ikhlas, bukan untuk memperoleh pujian.

73.    Bajikangangi tattilinga naia tallanga.
Artinya: “lebih baik miring daripada tenggelam”. Biasanya menjadi semboyan para pedagang kecil yang maksudnya: lebih baik rugi sedikit daripada hancur. Atau dapat juga diartikan: lebih baik berkorban daripada menjadi korban.

74.    Ciniki gauka naia nualle carammeng lakba.
Artinya: “amatilah setiap perbuatan, lalu jadikan cermin lebar”. Kita harus pandai-pandai mengamati keadaan sekitar kita, yang baik dijadikan pelajaran dan pedoman kemudian diteladani dan diamalkan. Sementara yang buruk dijadikan contoh buruk untuk tidak ditiru dan kalau perlu dibuang jauh-jauh.

75.    Inrang kana bayarak kana, inrang cerak bayarak cerak.
Artinya: “utang kata dibayar kata, utang darah dibayar dengan darah pula”. Gambaran sekaligus nasihat, bagaimana orang harus  pandai membalas segala sesuatu dengan setimpal. Di samping itu juga mencerminkan sikap hidup orang Makassar, di mana ketika memperoleh kebaikan juga akan membalas dengan kebaikan, namun jika disakiti mereka pun juga akan membalasnya dengan tindakan yang sama.

76.    Jeneka cinik ia tonja nanaik ia tonja nanaung.
Artinya: “lihatlah air ada saatnya pasang, ada saatnya surut”. Peribahasa yang berisi nasihat, bahwa kehidupan manusia akan senantiasa mengalami pasang surut  silih berganti. Ada kalanya kecukupan, ada kalanya kekurangan. Sekali waktu merasakan senang, lain kali kesusahan, dan semua itu merupakan dinamika yang harus diwaspadai.

77.    Kakbiliki riolong kalenmu napunna pakrisik, pakrisik tonji antu ri taua.
Artinya: “cubitlah dirimu lebih dahulu, jika kamu merasa sakit, orang lain pun demikian pula”. Merupakan nasihat, agar sebelum berbuat sesuatu perlu dipertimbangkan sebaik-baiknya. Jika perbuatan tersebut membawa kebaikan segeralah dilaksanakan, tetapi jika hasilnya mungkin buruk janganlah dikerjakan. Apalagi kalau menyangkut orang lain.

78.    Kammai tau tallantea palak bangkenna ri buttaya.
Artinya: “bagaikan orang yang tidak rapat telapak kakinya di tanah.” Gambaran terhadap orang yang sangat cepat jalannya karena harus menyelesaikan suatu urusan penting dan mendesak, atau karena ketakutan.

79.    Kontunna possok kala lempeka.
Artinya: “biarlah hancur (patah) daripada bengkok”. Semboyan yang menunjukkan keteguhan hati dalam menghadapi tantangan hidup. Apabila keputusaan sudah diambil, apapun yang terjadi harus dilaksanakan sebagaimana mestinya.

80.    Lakbirangi ammatika nassolonga.
Artinya: “lebih baik menetes daripada mengalir”. Semboyan yang umumnya dipakai oleh para pedagang kecil. Yaitu, lebih baik rugi sedikit daripada habis seluruhnya. Lebih baik sedikit berkorban, daripada benar-benar menjadi korban.

81.    Lalang dolangampi naerok ingak, basapi naerok appayung.
Artinya: “nanti di tengah pelayaran baru mau ingat (bertobat), sudah basah baru mencari payung”. Kiasan yang menggambarkan bagaimana orang yang terlambat menyadari kekeliruannya. Misalnya, sudah sakit keras dan menjelang sekarat baru mau beriman terhadap Tuhan YME.

82.    Lima ratea lakbiriki naia lima rawaya.
Artinya: “tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah”. Memberikan bantuan lebih utama (lebih baik) daripada menengadahkan tangan (menerima bantuan). Demikian pula memberi maaf, lebih mulia daripada menerima permaafan.

83.    Lipakmi lipaknu, bajuni bajunmu, takgalakmi sekre-sekrea.
Artinya: “pakailah sarungmu, pasanglah bajumu, berpeganglah pada yang satu”. Peringatan kepada orang yang sedang sakit keras atau sekarat agar pelajaran yang pernah dipelajari, terutama yang berhubungan dengan jalan kematian sesuai norma agama dimanfaatkan atau digunakan.

84.    Lompo kayua tongi tambukunna, cakdi katua cakdi tongi tambukunna.
Artinya: “besar kayu besar pula matanya, kecil kayu kecil pula matanya”. Orang jika memiliki penghasilan sedikit, pengeluarannya pun umumnya juga kecil. Namun, begitu penghasilannya naik, pengeluarannya juga meningkat. Artinya, ketika penghasilan makin tinggi ternyata tambah tinggi (banyak) pula kebutuhan hidup yang bersangkutan. 

Tutur local dari daerah Mandar
85.    Mua’ to sala timbei mau sakkani’ing bannis sallisar, Mua’ to parua amasei mau na sappamera’na sallambar
Artinya  :Bila ada orang yang salah lemparlah walau hanya secuil  lemparan, Jika ada orang yang benar lindungilah walau hanya selembar daun sirih.

86.    Attonganan parallui di da’dua tau : mesa tau iya mappahangi anna mesa tau iya mappannassai.
Artinya : Kebenaran penting bagi 2 orang : Seorang yang memahami, dan seorang yang menjelaskannya.

87.    Pelindo;lindo maririo na nacanringo’o pa’banua.
Artinya: Berbuatlah sesuatu yang baik agar dilamar (dicintai) masyarakat.
88.    Dotai tau simateang mie’ na member di olona lita’dadi nanaparenta tedong pute to kaper.
Artinya : Lebih baik mati berkalan tanah daripada diperintah oleh kerbau putih (Belanda) si kafir laknat

89.    Alawe membolong di nawang, nawang membolong di alawe, alawe membolong di akkeadang, akkeadang membolong di alawe, alawe membolong di atuang, atuang membolong di alawe.
Artinya :
Diri manusia adalah bagian dari alam (Tuhan), dan Alam adalah bagian dari di diri manusia, diri manusia adalah bagian dari adat istiadat kemasyarakatan dan adat istiadat kemasyarakatan adalah bagian dari diri manusia, diri manusia adalah bagian dari pribadinya sendiri dan diri pribadi manusia adalah bagian dari dirinya sendiri.

90.    Rupa tau anna’ attonganan da mupasisara’I anna da tau tuo sisara-sara’.
Artinya : Manusia dan kebenaran janganlah  dipisahkan agar kita tidak hidup bercerai-berai.

91.    Andiangi parallu tau laeng mappatongan paummu, iya tia mupaui iya anu muatappa’I tonganna.
Artinya : Tidak penting orang lain membenarkan ucapanmu, yang penting kamu mengatakan yang kamu yakini benar.

92.    Da ta’ lewa’-lewa’ mappikkiri anu kaiyang,iya tia pikkirri anu parua.
Artinya : Jangan terlalu dalam memikirkan hal-hal yang besar, akan tetapi pikirkan hal;hal yang benar.

93.    Dotai tipalappis lette’ dadi tia natipalappis lila.
Artinya : Lebih baik tergelincir kaki daripada tergelincir lidah.

94.    Pattodioloang andiangi mala dipattaarang, anu pole andiangi mala dipannassa, tunga’eang masse’I iya anu muappunnai dite’e.
Artinya : Kehidupan masa lalu tidak bias hanya dijadikan kebanggaan, yang akan datang tidak bisa dipastikan, pegang erat apa yang telah dimiliki sekarang.

95.    Mua’ cappu’ di sayammu siri’mu mbei, mua’ siri’ balala tomi diang dua-a rakke’mu lao di Puang.
Artinya : Andai kasih sayang telah kering habis tolong jemput rasa malu, bila rasa malu pun telah tiada semoga anda masih punya rasa takut kepada Allah.

96.    Maui pole lembong tallu sitonda talippurus, sumombal toa’ ma’itai dalle’ iya hallal.
Artinya :Meski Ombak gulung-gemulung seiring putting beliung (sunami), ku akan tetap berlayar mencari rezeki yang halal.

97.    Ingga’e mie’ mattulung to parallu nitulung, iya mo tu’u pappasanna to diolo’ta.
Artinya : Mari kita menolong orang yang perlu kita tolong, itulah pesan leluhur kita.

98.    Mua’ lao’o di pasar dao pambawa doi’, pambawao apa mala menjari doi’.
Artinya : Bila anda ke pasar janganlah membawa uang. Tapi bawalah yang bisa dijadikan uang

99.    Kemenang macoa barang-barang iya mala makkeguna lao di alaweta.
Artinya : Sebaik-baik harta adalah harta yang bermanfaat bagi pribadi.

100.Inai-inai mattongan-tongan na nalolongani akkattana.
Artinya : Siapa yang bersungguh-sungguh dia yang dapat.

101.Da kaondo-ondoong mua’ diang mujama, malai tu’u sapupala’ capparanna.
Artinya :Janganlah selalu berpindah-pindah kalau ada yang dikerjakan, karena bisa mengakibatkan kesia-siaan akhirnya.

102.Dao situna-tunai parammu rupa tau, sitteteng nasangdi tau to na padiang Puang.
Artinya :Jangan engkau saling menghina antara sesame umat manusia, kita semua manusia ciptaan Tuhan.

103.Sara dao pappetandoang panra’ di tau laeng, andiang tu’u melo’ na dipanrai’i.
Artinya :Jangan engkau menyodorkan kesusahan pada orang lain, tak ada orang yang rela disusahkan.

104.Inggai situlu;tulung lao di apiangan, mappepondo’I inggannana adaeang, alesei adaeng, tinro’I apiangan, situlu-tulung paratta rupa tau.
Artinya :Mari kita tolong menolong menuju kebaikan, membelakangi seluruh kejahatan, hindarilah kejahatan, kejarlah kebaikan, saling tolong-menolong sesame manusia.

105.Ala tau ala ita’, mokai dirosso’, andiang rosso’ napoma’gia tau.
Artinya :Baik orang maupun kita, tentu tak mau dipaksa, tak ada paksaan yang disenangi orang.

106.Paccalla pasirua-rua I apa’ malai paccalla menjari diolo’I, pa’elo’iang pasirua-rua toi apa’ malai menjari dicalla.
Artinya :Bila membenci sesuatu bencilah apa adanya sebab bisa benci berubah jadi suka, bila suka terhadap sesuatu sukalah apa adanya jangan terlalu disuka sebab boleh jadi berubah jadi benci.

107.Tau iya kamenang madiolo mappe’illango’ mua’ naruao awala’ iyamo sikadeppe’ boyammu, Tania sangana’ anna’ sammuanemu.
Artinya :Orang yang pertama kali menjenguk bila kamu ditimpa musibah adalah tetanggamu, bukan family atau teman.

108.Anu napole sangga’ tenna-tenna’, anu pura lao sangga’ diingarang dami, jari tinggal siasayanni.
Artinya :Sesuatu yang akan datang hanyalah angan-angan, yang sudah berlalu hanya bisa diingat (milik sejarah), dari itu mari kita saling menyayangi.

109.Mua’ melo’o naelo’I tau : Pecoai turang pau, gau’, anna kedo.
Artinya : Bila anda ingin disuka oleh orang : Perbaiki tutur kata, perbuatan dan tingkah laku.

110.Inai tau macoa turuppaunna na mai’di towomi tia Solana
Artinya :Siapa yang mempunyai tutur kata yang baik, akan banyak temannya.

111.Iya pappasang pole di neneta : Tuo’o dai’ marendeng, salama’ tuo mi’ apa pa’ulleanna batang.
Artinya :Adapun wasiat leluhur : Hidup dengan selamat, hidup selamat sesuai kemampuan diri.

112.Tuo’o sirua-rua di baona lino, da pallewa’ pa’ulleanna batang, sukurangi naung dalle’ mau nasaicco’na, da pakkawe’ tannaulle batammu, suka’I ullena batang, da ta’ lewa-lewa’, da pacinna anu tassitinaya.
Artinya :Hiduplah engkau sederhana di atas dunia, jangan melampaui kemampuan dirimu, mensyukuri rezeki yang ada walau hanya sedikit, jangan menggapai di luar kemampuan dirimu, ukurlah kemampuan diri, jangan melampaui batas, jangan engkau mengingini sesuatu yang tidak pantas.

113.Naiya ke’la-ke’la sapupala’ capparanna.
Artinya :Adapun memboros kesia-siaan akibatnya.

114.Mua’ mitteke’o na mulambi’ bandimo buana, da pindai’ bandamo.
Artinya :Jikalau anda memanjat pohon dan sudah sampai pada buahnya, janganlah anda lagi melewatinya.
115.To kamenang sugi’ iyamo to masagena.
Artinya :Orang yang paling kaya ialah orang sejahtera.

116.Da melo’ disanga, to melo’ disanga to andiang tu’u sangana.
Artinya :Jangan mau dikata, sebab orang yang mau dikata adalah orang yang tak punya nama (apa-apa)

117.Assalanna cai’ iyamo amasu’angan pulu-pulung anna capparanna cai’ apanosoang.
Artinya :Awal kemarahan adalah kekerasan, dan akhir kemarahan adalah penyesalan.

118.Pauli cai’ sawa’ mammakko’.
Artinya :Obati marah dengan diam.

119.Mua’ lambao lewo’ da pimmanu’ baine, apa’ mua’ mimmanu’ baineo napiwaineo tu’u tau.
Artinya :Bila anda pergi ke daerah lain, janganlah bersifat seperti ayam betina,karena kalau anda bersifat ayam betina anda akan digagahi orang lain.

120.Inai-inai pagau’ bawang, tattangai nadigau’ bawang toi tia.
Artinya :Siapa yang menganiaya orang lain, maka tunggulah dia juga akan dianiaya.

121.Laku-lakui pogau’na disurung sannang mapia pada-pada.
Artinya :Rajin-rajinlah melakukan segala hal yang menyelamatkan. Yang akan membuat kita senang dan sama-sama baik.

122.Tau kamenang macanga iyamo tu’u tau iya mala mappamasara nasang inggannana tau.
Artinya :Orang yang paling hebat adalah orang yang bisa menyibukkan semua orang.

123.Waji’I tau me’uya anna usaha,iya tia andiangi waji’ ma’dupa.
Artinya :Kita wajib bekerja dan berusaha, akan tetapi tidak wajib berhasil.

124.Parua anna’ disalanna mesa jama-jamang pettuleangi tama di ate mapaccimmu, apa’ atedi tia mala mappannassa.
Artinya :Benar tidaknya suatu pekerjaan, tanyakanlah kepada hati nuranimu, sebab hati nuranilah yang bisa menjelaskan.

125.Diongin anunna sejarah, madondong anunna tau, ite’e di’e anutta towomi ita’, jari inggai mallaku-laku memang dite’e.
Artinya :Kemaarin adalah milik sejarah, besok adalah milik orang lain, dan sekarang adalah milik kita. Dari itu mari kita kerja keras dari sekarang.

126.Sangga’ to mala’bi mappakala’bi tau anna sangga’ to matuna mala mattuna-tunai tau.
Artinya :Hanya orang yang mulia bisa memuliakan orang lain, dan hanya orang yang hina bisa menghinakan orang lain.

127.Andiangi tau macoa maccapa-capa’ mesa rupa tau, apa’ inggannana rupa tau diang nasang kala’binna.
Artinya :Kita tidak baik memandang remeh orang lain sebab semua orang mempunyai kelebihan.

128.Mu’a lesse’mi lao pau taniamo bareta’.
Artinya :Kalau bicara telah lepas (keluar) bukan lagi milik kita.

129.Pikkirri macoai diandinnapa mupasung paummu, apa’ iya pau da’duai capparanna: Adaeang iyade’ acoang.
Artinya :Pikirkan baik-baik sebelum kamu mengucapkan perkataanmu, sebab perkataan dua akhirnya : Keburukan atau kebaikan.

130.Dotai tau sala apa’ mappogau’I dadi andiang rua sala apa’ andiangi rua mappogau’.
Artinya :Lebih baik kita salah karena berbuat daripada tidak pernah salah karena tidak pernah berbuat.

131.Andiangi tau macoa tappa mappokanynyang le’ba’ to andiappa di issang.
Artinya :Kita tidak baik langsung mempercayai orang yang belum kita kenal baik.

132.Kulissi’I alawemu mane makkulissi’o tau laeng, mua’ munge’I musa’ding, tau laeng monge’ toi.
Artinya : Cubitlah dirimu barulah mencubit orang lain, kalau kamu merasa sakit, orang lain pun merasakannya.

Tutur local dari daerah Toraja
133.Misa’ kada Diputo pantan kada dipomate
Artinya: jika kita selalu setia sekata dalam mengahadapi persoalan, maka kita akan selalu damai dan berhasil .

134.Ada’ todolo madiang tangdisurrukki, madiong tangditengkai.
Artinya: adat tidak boleh diubah begitu saja atau sewenang-wenang. Adat dari dulu tidak akan diubah dan tidak akan diganti oleh zaman yang ada sekarang ini.

135.Tae’pa tau natampa sekong kombongan kalua
Artinya ; belum ada orang-orang yang rusak atau mendapat bahay karena melaksanakan musyawarah. Jadi dalam adat toraja , musyawarah yang sudah diputuskan  bersama dalam adat tidak boleh diubah dan itu harus dipatuhi.

136.Dianna batu silambi’ disedan karangan siratuan
Artinya : pengetahuan itu harus disimpan secara kesinambungan supaya jangan terputus atau hilang ditengah jalan

Tutur local dari daerah Jawa
137.Urip Iku Urup (Hidup itu Nyala),
Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik, tapi sekecil apapun manfaat yang dapat kita berikan, jangan sampai kita menjadi orang yang meresahkan masyarakat
138.Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara
Maksunya Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak).

139.Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti
Artinya segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar.

140.Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa Bandha
Artinya Berjuang tanpa perlu membawa massa, Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan. Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan, kekayaan atau keturunan, Kaya tanpa didasari kebendaan.

141.Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan
Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri; Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu.

142.Aja Gumunan, Aja Getunan, Aja Kagetan, Aja Aleman
Jangan mudah terheran-heran, Jangan mudah menyesal, Jangan mudah terkejut- kejut, Jangan mudah kolokan atau manja.

143.Aja Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman
Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi.

144.Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka
Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah, jangan suka berbuat curang agar tidak celaka.

145.Aja Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendo.
Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah; Jangan berfikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat.

146.Aja Adigang, Adigung, Adiguno
Maksudnya adalah Jaga kelakuan / tatakrama, jangan sombong dengan kekuatan, kedudukan, ataupun latarbelakangmu.

147.Alon-alon waton klakon
Filosofi ini sebenarnya berisikan pesan tentang safety/keselamatan. Padahal kandungan maknanya sangat dalam. Filosofi ini mengisyaratkan tentang kehati-hatian, waspada, istiqomah, keuletan, dan yang jelas tentang safety.

148.Nerimo ing pandum.
Makna dari kata tersebut mengandung Arti yang mendalam menunjukan pada sikap Kejujuran, keiklasan, ringan dalam bekerja dan ketidakinginan untuk korupsi.
Inti filosofi ini adalah Orang harus iklas menerima hasil dari usaha yang sudah dia kerjakan.

149.Saiki jaman edan yen ora edan ora komanan, sing bejo sing eling lan waspodo.
Artinya sekarang zaman edan, yang gak enda gak bakal kebagian; Hanya orang yang ingat kepada Allah yang beruntung. disini saja juga tidak cukup dan waspada terhadap duri-duri kehidupan yang setiap saat bisa datang dan menghujam kehidupan, sehingga bisa mengakibatkan musibah yang berkepanjangan.

150.Wong jowo iki gampang di tekuk - tekuk.
Filosofi ini juga berupa ungkapan peribahasa yang dalam bahasa Indonesia adalah 'Orang Jawa itu mudah ditekuk-tekuk'. Ungkapan ini menunjukan fleksibelitas dari orang jawa dalam kehidupan. Kemudahan bergaul dan kemampuan hidup di level manapun baik miskin, kaya, pejabat atau pesuruh sekali pun. Orang yang memegang filosofi ini akan selalu giat bekerja dan selalu ulet dalam meraih cita-citanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tokoh-tokoh Pendidikan Indonesia